Freitag, Dezember 01, 2006

SLI Untuk Gagak

Suatu siang, saat mengistirahatkan mataku sejenak dari monitor, aku menatap sebuah pohon yang sudah gundul, melalui jendela ruang kerjaku. Sebuah pertanyaan mengusikku, dan aku pun menelepon seseorang.

Me: “Hi, ich bin!”
Korban: “Hi Non! Ada apa?“
Me: “Kenapa sih gagak nggak terbang ke tempat yang lebih hangat?”
Korban: “Maksud Noni apa?“
Me: “Ini ada gagak bertengger di atas dahan. Padahal kan sekarang udah dingin, dan burung-burung lain udah pada minggat. Kenapa gagak masih di sini, padahal pas musim dingin datang kan sebagian dari mereka bakal mati membeku?“
Korban: “Wah, nggak tahu. Kenapa, memangnya?“
Me: “Ya, Noni juga nggak tahu, makanya nanya.“
Korban: “Hmmm…nggak tahu juga. Tapi mungkin karena memang gagak nggak bias terbang jauh ya?“
Me: “Iya ya? Bener juga, kalau diinget-inget, gagak nggak terbang tinggi.“
Korban: “Iya.“
Me: “Oh ya udah ya, Papa, cuma mau nanya itu doang. Daag!“

Klik.

Doesn't matter how far we're apart, my father is still the one I ask about such of things. :-D

Nggak Sopan!

Aku sudah nggak tahu lagi berapa kali aku bertingkah tidak pantas. Sesuatu yang kupikir adalah hal yang biasa, ternyata merupakan hal yang keterlaluan atau minimal tidak wajar. Tapi yang kuingat itu ada tiga.

Suatu sore, kami memenuhi undangan makan malam dari Lea-Sophie, sahabat Micha (sekaligus mantan pacarnya, hihihi). Karena di rumah sudah terlebih dulu makan Indomie (rasa udang), aku pun menolak untuk makan banyak di sana.
“Kenapa? Masakanku nggak enak ya?“ tanya Lea.
“Enak kok, tapi aku udah kenyang,“ jawabku.
“Makan dikit gitu kok kenyang?“ tanyanya lagi.
“Tadi di rumah udah makan,“ jawabku jujur.
TET-TOT! Kesalahan pertama.

Mama kandungnya Micha suka ngasih hadiah ke aku. Saat pertama kalinya beliau memberiku hadiah secara langsung (face to face), aku sangat gembira saat melihat bungkusnya yang rapi, lengkap dengan pitanya. Aku pun segera mengucapkan terima kasih dan pergi ke kamar untuk menyimpan hadiah itu.
TET-TOT! Kesalahan kedua.

Suatu senja, di Standesamt. Aku sedang mengurus sebuah dokumen, ditemani oleh Micha. Ketika petugasnya sedang meneliti dokumen, aku tiba-tiba teringat sesuatu yang pribadi dan mendesak. Kubisikkan hal itu ke telinga Micha…
TET-TOT! Kesalahan ketiga.

Apa dong, yang sopan?

Setahuku, aku tidak melanggar etika kesopanan dalam standar Indonesia (at least, aku belajar dari keluargaku). Tapi ternyata aturan main di sini berbeda.

Satu: Adalah sangat tidak sopan untuk makan sebelum makan di rumah orang lain. Kenapa? Karena tuan rumah sudah masak dan mengharapkan tamunya makan. Sedangkan selama ini, dari aku kecil sampai aku dewasa, aku diajarkan untuk tidak rakus jika berada di rumah orang. Orangtuaku selalu memberi kami (aku dan adikku) makan, sebelum pergi makan di rumah orang.

Dua: Adalah sangat tidak sopan untuk tidak membuka hadiah di hadapan sang pemberi. Alasannya sederhana, si pemberi ingin tahu apakah kita suka atau tidak dengan hadiahnya. Sedangkan di Indonesia, rasanya tidak lazim untuk membuka kado di depan pemberi. Aku masih ingat, betapa ortuku selalu menyuruhku untuk bersabar hingga para tamu pulang, baru kami bisa buka kado. Alasannya masuk akal, karena kalau kita tidak suka kadonya, kita tidak akan menyakiti perasaan sang pemberi. Well, eniwei, ada untungnya aku tidak membuka hadiah dari Bärbel, karena aku yakin ekspresiku akan membuatnya bingung. Ia waktu itu memberiku sebuah produk Lancôme. Sebuah hadiah yang mahal, dan pastinya akan disambut dengan gembira oleh mamaku, tapi hanya akan membuatku bengong sesaat mengingat aku nggak tergila-gila dengan produk kecantikan. Tapi aku sangat menghargai hadiah itu.

Tiga: Adalah tidak sopan untuk berbisik-bisik di depan orang lain, karena SEMUA (kata Micha sih gitu) orang Jerman akan berpikir bahwa dirinya lagi diomongin.Dalam hal ini, kayaknya nggak sopan juga ya di Indonesia. Well, well…my own mistake, then, hehehe.


Posting ini didedikasikan buat Mami Mira dan Tya. Makasih buat mengingatkanku untuk apdet. ;-)

Samstag, Juni 17, 2006

Kaffee?

Tiap aku ada di bagian produksi ball valves ukuran besar, aku akan langsung mencari sesosok pria Romania bertubuh kecil dengan kacamata besar.

Herr Bartesch adalah kepala bagian di sana, dan seperti 99,99% pekerja lainnya, ia tidak dapat berbahasa Inggris. Tapi meskipun kami kesulitan berkomunikasi, kami cukup mengerti satu sama lainnya, dan aku sangat menyukainya.

Ia lah orang yang tak henti-hentinya bertanya, "Kaffee?"
Ia lah orang yang selalu mendapatkan jawaban, "Nein, danke" dari bibirku.
Ia lah orang yang selalu menatapku bingung dan bertanya, "Nein?" sambil menggeleng tidak percaya dan melangkah pergi...untuk kembali dan menanyakan kembali, "Kaffee?"

Dalam hari pertama kami, entah berapa kali ia menanyakan hal itu, dan menatapku dengan khawatir saat aku menolaknya.

Suatu sore, ia datang. Kali ini, ia menyodorkan sesuatu yang tidak dapat kutolak.

Sebatang cokelat.

Tersenyum, kami berdua duduk di atas meja dan menikmati cokelat itu.

Herder

Di departemen produksi ball valves kecil, ada seorang pria bernama D. Derr.

Tidak ada yang spesial sih, tentang pria ini. Sama sekali nggak bisa bahasa Inggris, berambut dan berjanggut kambing warna hitam.

Hanya saja...nggak peduli berapa kali Micha ngajarin aku memanggil nama depannya, aku nggak pernah bisa.

Yang selalu teringat itu adalah Herr Derr.

Herder.

Cacingan?

Tahu kan, penyakit cacingan? Salah satu ciri-ciri bila seseorang menderita cacingan ini adalah jika orang tersebut nafsu makannya besar tapi tubuhnya tetap ceking...kecuali di bagian perut. Salah satu tanda yang bisa dicurigai juga adalah (konon lho...ini kata guru saya pas SD dulu) adalah penderita cacingan memiliki kecenderungan untuk terus berkedip.

Hari pertama aku ke kantor di Steinheim, aku mendapati kenyataan bahwa para pria Jerman banyak yang cacingan. Pertamanya sih kupikir kelilipan, another kelilipan, yet another kelilipan, tebar pesona, sampai akhirnya pada kesimpulan: cacingan kronis. Miris juga sih ngebayangin kalau di negara yang jalanannya super bersih (apalagi kalau dibandingkan dengan kota tercinta, Bandung) ini ternyata banyak yang cacingan.

Pas iseng ngerecokin Micha di ruang kerjanya, aku nanya ke dia, "Apa sih artinya kalau ada cowok yang ngedip?"
Sebuah pertanyaan yang kemudian dijawab dengan pertanyaan lain, "Siapa yang ngedipin kamu?"
Belum sempat bilang apa-apa (dan nggak bisa ngomong, lah wong aku juga nggak ingat siapa aja), Herr Hoster udah manggil Micha buat urusan kerjaan. Ya sudah, hilang deh momen kedip-mengedip.

Bukan cuma Micha yang nggak pernah menjawab pertanyaanku itu, tapi juga kesempatan untuk dikedipin pun nyaris punah. Keesokan harinya Micha ikut lagi mengantar aku keliling kantor dan pabrik. Kali ini, dia dengan gamblang mengumumkan status kami, ditambah acara peluk pinggang. *sigh*

Ah, tapi mungkin aku masih bisa mendapatkan jawaban. John juga dulu sering kedip-kedipin matanya, saat kami masih kencan dulu itu.

Tschüs!