Samstag, Juni 17, 2006

Kaffee?

Tiap aku ada di bagian produksi ball valves ukuran besar, aku akan langsung mencari sesosok pria Romania bertubuh kecil dengan kacamata besar.

Herr Bartesch adalah kepala bagian di sana, dan seperti 99,99% pekerja lainnya, ia tidak dapat berbahasa Inggris. Tapi meskipun kami kesulitan berkomunikasi, kami cukup mengerti satu sama lainnya, dan aku sangat menyukainya.

Ia lah orang yang tak henti-hentinya bertanya, "Kaffee?"
Ia lah orang yang selalu mendapatkan jawaban, "Nein, danke" dari bibirku.
Ia lah orang yang selalu menatapku bingung dan bertanya, "Nein?" sambil menggeleng tidak percaya dan melangkah pergi...untuk kembali dan menanyakan kembali, "Kaffee?"

Dalam hari pertama kami, entah berapa kali ia menanyakan hal itu, dan menatapku dengan khawatir saat aku menolaknya.

Suatu sore, ia datang. Kali ini, ia menyodorkan sesuatu yang tidak dapat kutolak.

Sebatang cokelat.

Tersenyum, kami berdua duduk di atas meja dan menikmati cokelat itu.

Herder

Di departemen produksi ball valves kecil, ada seorang pria bernama D. Derr.

Tidak ada yang spesial sih, tentang pria ini. Sama sekali nggak bisa bahasa Inggris, berambut dan berjanggut kambing warna hitam.

Hanya saja...nggak peduli berapa kali Micha ngajarin aku memanggil nama depannya, aku nggak pernah bisa.

Yang selalu teringat itu adalah Herr Derr.

Herder.

Cacingan?

Tahu kan, penyakit cacingan? Salah satu ciri-ciri bila seseorang menderita cacingan ini adalah jika orang tersebut nafsu makannya besar tapi tubuhnya tetap ceking...kecuali di bagian perut. Salah satu tanda yang bisa dicurigai juga adalah (konon lho...ini kata guru saya pas SD dulu) adalah penderita cacingan memiliki kecenderungan untuk terus berkedip.

Hari pertama aku ke kantor di Steinheim, aku mendapati kenyataan bahwa para pria Jerman banyak yang cacingan. Pertamanya sih kupikir kelilipan, another kelilipan, yet another kelilipan, tebar pesona, sampai akhirnya pada kesimpulan: cacingan kronis. Miris juga sih ngebayangin kalau di negara yang jalanannya super bersih (apalagi kalau dibandingkan dengan kota tercinta, Bandung) ini ternyata banyak yang cacingan.

Pas iseng ngerecokin Micha di ruang kerjanya, aku nanya ke dia, "Apa sih artinya kalau ada cowok yang ngedip?"
Sebuah pertanyaan yang kemudian dijawab dengan pertanyaan lain, "Siapa yang ngedipin kamu?"
Belum sempat bilang apa-apa (dan nggak bisa ngomong, lah wong aku juga nggak ingat siapa aja), Herr Hoster udah manggil Micha buat urusan kerjaan. Ya sudah, hilang deh momen kedip-mengedip.

Bukan cuma Micha yang nggak pernah menjawab pertanyaanku itu, tapi juga kesempatan untuk dikedipin pun nyaris punah. Keesokan harinya Micha ikut lagi mengantar aku keliling kantor dan pabrik. Kali ini, dia dengan gamblang mengumumkan status kami, ditambah acara peluk pinggang. *sigh*

Ah, tapi mungkin aku masih bisa mendapatkan jawaban. John juga dulu sering kedip-kedipin matanya, saat kami masih kencan dulu itu.

Tschüs!