Freitag, Dezember 01, 2006

Nggak Sopan!

Aku sudah nggak tahu lagi berapa kali aku bertingkah tidak pantas. Sesuatu yang kupikir adalah hal yang biasa, ternyata merupakan hal yang keterlaluan atau minimal tidak wajar. Tapi yang kuingat itu ada tiga.

Suatu sore, kami memenuhi undangan makan malam dari Lea-Sophie, sahabat Micha (sekaligus mantan pacarnya, hihihi). Karena di rumah sudah terlebih dulu makan Indomie (rasa udang), aku pun menolak untuk makan banyak di sana.
“Kenapa? Masakanku nggak enak ya?“ tanya Lea.
“Enak kok, tapi aku udah kenyang,“ jawabku.
“Makan dikit gitu kok kenyang?“ tanyanya lagi.
“Tadi di rumah udah makan,“ jawabku jujur.
TET-TOT! Kesalahan pertama.

Mama kandungnya Micha suka ngasih hadiah ke aku. Saat pertama kalinya beliau memberiku hadiah secara langsung (face to face), aku sangat gembira saat melihat bungkusnya yang rapi, lengkap dengan pitanya. Aku pun segera mengucapkan terima kasih dan pergi ke kamar untuk menyimpan hadiah itu.
TET-TOT! Kesalahan kedua.

Suatu senja, di Standesamt. Aku sedang mengurus sebuah dokumen, ditemani oleh Micha. Ketika petugasnya sedang meneliti dokumen, aku tiba-tiba teringat sesuatu yang pribadi dan mendesak. Kubisikkan hal itu ke telinga Micha…
TET-TOT! Kesalahan ketiga.

Apa dong, yang sopan?

Setahuku, aku tidak melanggar etika kesopanan dalam standar Indonesia (at least, aku belajar dari keluargaku). Tapi ternyata aturan main di sini berbeda.

Satu: Adalah sangat tidak sopan untuk makan sebelum makan di rumah orang lain. Kenapa? Karena tuan rumah sudah masak dan mengharapkan tamunya makan. Sedangkan selama ini, dari aku kecil sampai aku dewasa, aku diajarkan untuk tidak rakus jika berada di rumah orang. Orangtuaku selalu memberi kami (aku dan adikku) makan, sebelum pergi makan di rumah orang.

Dua: Adalah sangat tidak sopan untuk tidak membuka hadiah di hadapan sang pemberi. Alasannya sederhana, si pemberi ingin tahu apakah kita suka atau tidak dengan hadiahnya. Sedangkan di Indonesia, rasanya tidak lazim untuk membuka kado di depan pemberi. Aku masih ingat, betapa ortuku selalu menyuruhku untuk bersabar hingga para tamu pulang, baru kami bisa buka kado. Alasannya masuk akal, karena kalau kita tidak suka kadonya, kita tidak akan menyakiti perasaan sang pemberi. Well, eniwei, ada untungnya aku tidak membuka hadiah dari Bärbel, karena aku yakin ekspresiku akan membuatnya bingung. Ia waktu itu memberiku sebuah produk Lancôme. Sebuah hadiah yang mahal, dan pastinya akan disambut dengan gembira oleh mamaku, tapi hanya akan membuatku bengong sesaat mengingat aku nggak tergila-gila dengan produk kecantikan. Tapi aku sangat menghargai hadiah itu.

Tiga: Adalah tidak sopan untuk berbisik-bisik di depan orang lain, karena SEMUA (kata Micha sih gitu) orang Jerman akan berpikir bahwa dirinya lagi diomongin.Dalam hal ini, kayaknya nggak sopan juga ya di Indonesia. Well, well…my own mistake, then, hehehe.


Posting ini didedikasikan buat Mami Mira dan Tya. Makasih buat mengingatkanku untuk apdet. ;-)

3 Comments:

At 4:21 vorm., Anonymous mira said...

Hihihi..kayaknya aku juga pernah kejadian gitu.. ya memang lain padang lain belalang..

 
At 7:26 vorm., Blogger jempol semua said...

booo', repot ya jeng? jangankan beda kultur, di kita yang kulturnya semua sama cuman beda suku aja udah repot bener.
Contoh : gue dulu pernah tinggal di Makassar selama 5 tahun lebih, tradisi disana kalo kita lagi ada ada acara keluarga spt lamaran/akad nikah dan duduk melantai, kita harus duduk dengan kaki diangkat sebelah, dan sebelahnya lagi dilipat (seperti bersila sebelah) tapi kalo kita di tanah jawa, tatanan duduk seperti itu buat cewek itu nggak sopan.Tapi di Makassar itu dah sopan banget.

Ya...semuanya balik ke diri kita sendiri, kudu pinter2 beradaptasi dengan lingkungan.

 
At 7:08 nachm., Blogger Ireth Halliwell said...

Weleh... dedikasinya buat saya pula :D

Ealah.. di jerman ternyata gitu toh adatnya.. kalo yang buka kado rasanya aku pernah dikasih trus disuruh buka gitu :D

 

Kommentar veröffentlichen

Links to this post:

Link erstellen

<< Home